Puisi Pagi Hari


Maka sibaklah tirai-tirai kemalasan untuk menggapai cahaya ilmu yang menerangi setiap jiwa yang terperangkap di dalam lorong-lorong kebodohan yang pengap dan menyesakkan.
Tegakkan hokum pada dirimu.
Engkau adalah polisi untuk dirimu sendiri yang dengan gagah berani mampu memberangus setiap kesalahan yang kau lakukan.
Petiklah seluruh benang-benang emas dari jubah al-musthafa,
Yang renda-rendanya menuliskan kata al amin!
Seakan tidaklah menjadi seorang muslim, kecuali kau bangun citra diri yang membuat orang berdecak kagum karena engkaulah manusia langit yang menjadi tiang-tiang hukum kehidupan.

Puisi Inspirasi



Ada sebuah puisi yang sangat indah. Yang memberi inspirasi pada saya, minimal beberapa tahun belakangan ini. Puisi yang menggugah dan mampu merubah format berpikir saya, kala itu. Puisi ini adalah buah karya dari seorang Belanda yang bernama Douglas Mulloch, yang kemudian dikutip oleh Dale Carnegie dalam basa enggres. Dan inilah gubahannya ke dalam basa indo versi saya.

** bagi yang tahu versi aslinya, ngga usah demo ya membaca terjemahan bebas saya..hehe...

Ini dia puisinya, simak baek-baek ya....


Bila Anda tidak bisa menjadi pohon cemara di atas bukit,
Jadilah belukar di lembah, atau jadilah belukar yang indah di pinggir parit.
Jadilah perdu, bila Anda tak bisa menjadi pohon.
Bila Anda tidak bisa jadi perdu, jadilah rumput,
Dan buatlah jalan-jalan jadi semarak;
           
            Bila Anda tidak bisa menjadi ikan tuna, jadilah teri.
            Tapi teri yang paling indah di tambak.

Tidak semua di antara kita akan menjadi komandan,
Tentu ada yang jadi pasukan
Semua itu ada kepentingannya masing-masing.
Ada perkara besar dan ada yang  kecil
Dan tugas yang harus segera kita kerjakan
Adalah pekerjaan yang paling dekat dengan kita.
           
            Bila Anda tidak dapat menjadi jalan besar, jadilah pematang.
            Bila Anda tidak bisa menjadi matahari, jadilah bintang.
            Bukan besarnya yang mengukur Anda kalah atau menang
            Yang penting hidup bermakna dan matang.



Hmmm.. Gimana komentarmu, teman?

Belajar dan Mengajar Al Qur’an

 

Dari Utsman r.ad. Rasulullah saw. Bersabda,
”Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-qur’an dan mengajarkannya”(Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)


Dalam sebagian besar kitab, hadits ini diriwayatkan dengan menggunakan huruf wa (dan), sebagian terjemahan di atas. Dan keutamaan yang disebutkan menurut terjemahan di atas diperuntukan bagi orang yang belajar Al-quran dan mengajarkannya kepada orang lain.

Tentang Kepemimpinan



Temanku yang baik, setiap kita adalah pemimpin. Minimal, pemimpin untuk diri kita sendiri. Karenanya, setiap kitapun tak kan luput dari kewajiban  dan tanggung jawab.
Minimal ada 2 hal pokok yang harus ada dalam jiwa setiap pemimpin,

Pertama, seorang pemimpin wajib memiliki visi dan misi.
Visi adalah arah atau tujuan hidup yang harus kita tuju. Tanpa visi, hidup kita akan seperti air yang mengalir mengikuti arus. Jika arus ke kiri, ikutlah air itu ke kiri, jika belok ke kanan, ikut pulalah ia. Orang yang tidak memiliki visi hidup sama dengan orang yang tidak memiliki prinsip. Karenanya, sebagai pemimpin, mari kita tetapkan visi hidup kita. Tak ada kata terlambat untuk itu.

Setelah kita tetapkan visi kita, maka sebagai seorang pemimpin, berusahalah untuk mempresentasikan, menjabarkan dan mendeskripsipkan visi kita kepada bawahan atau anak asuhan kita. Mereka harus tahu visi kita. Mereka harus tahu, hendak kemana kita ajak. Memimpin hakekatnya adalah mempengaruhi. Semakin luas pengaruh kita, semakin tajam pula kepemimpinan kita.

Untuk selanjutnya, secara persuasif, pemimpin wajib menggiring, mengajak dan membimbing anak buahnya menuju ke arah visi yang dituju. Step by step.

Contohlah misal, seorang ibu muslim yang tentu saja menginginkan kebaikan dunia dan akherat bagi keluarganya. Ia mesti senantiasa mengenalkan surga dan neraka kepada buah hatinya. Deskripsikanlah surga beserta kenikmatan-kenikmatannya yang bisa kita reguk kelak jika kita bisa memasukinya. Ulang, dan terus ulangilah, setiap hari, setiap malam, hingga benar-benar mengakar dalam hati dan jiwanya. Hingga ada kerinduan dan keinginan yang mendalam untuk menuju ke arahnya. Apabila seorang anak mindset nya sudah sedemikian kuat seperti itu, maka ia akan dengan mudah dan ikhlas menjalankan -apapun itu-  sesuatu yang bisa mendekatkannya kepada tempat yang dicintainya itu.

Kedua, seorang pemimpin harus memiliki sifat JUJUR.
Seorang Muhammad, sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau dikenal oleh masyarakat Mekah sebagai orang yang jujur. Bahkan beliau disebut sebagai Al Amin, atau orang yang bisa dipercaya.

Modal dasar seorang pemimpin disamping ia harus memiliki visi, adalah sifat jujur. Apalah artinya menjadi seorang pemimpin organisasi besar atau bahkan presiden sekalipun, apabila ia dikenal sebagai tukang bohong dan pembual.

Jadikanlah diri kita orang yang jujur. Jujur dalam perbuatan, sikap dan perkataan. Jangan sekali-kali berbohong, karena berbohong pada akhirnya akan membutuhkan kebohongan-kebohongan selanjutnya.
Ujian terberat kejujuran adalah ketika orang yang kita kasihi atau diri kita sendiri melakukan sebuah kesalahan. Tak dapat dipungkiri, sebagian dari kita selalu menginginkan menjadi ‘yang paling benar’. Tak dapat dipungkiri, sebagian dari kita lebih menyukai membenamkan dalam-dalam kesalahan-kesalahan kita untuk kemudian memasang muka-muka innocent yang nyaris membuat semua orang percaya pada kebaikan dan kebenaran diri kita yang sebenarnya sangatlah kerdil.

Kita lupa bahwa ada Yang Melihat. Dia melihat yang kita lakukan, Dia tahu segala sekecil apapun kesalahan-kesalahan kita. Dan Dia pun tahu, sekerdil apakah diri kita ini.
So, be honest! Be honest! Jujurlah wahai temanku yang baik. Tak kan kita mengalami kerugian apabila kita jujur.

Semoga, catatan kecil ini bisa menjadi sedikit modal untuk memperbaiki kepimpinan kita di masa datang.



Resep Bingka Tape

-->
Berikut adalah resep Bingka Tape yang enak, resep bingka tape ini saya adopsi dari tabloid Koki edisi beberapa taon yang lalu. Pertama uji coba dengan resep bingka tape ini, waduh ga keruan hasilnya, soalnya resep di tablod tersebut untuk cara membuatnya sepertinya ada yang salah ketik, ada beberapa bahan yang tidak dimasukkan ke dalam adonan… pantang mundur, coba resep bingka tape ini untuk kedua kalinya. Sedikit colek sana colek sini, akhirnya… tratata…. Enak.. top markotop. Monggo dicoba ya resep bingka tapenya…

dannn inilah resep bingka tape-nya
Bahan I :
300 gr tape singkong, haluskan dan buang seratnya
100 gr tepung terigu protein sedang
Bahan II:
250 ml santan
Sedikit garam
50 gr gula merah
Bahan III :
4 btr telur
100 gr gula pasir

Caranya:

Bahan I             : campur rata hingga bergerimbil

Bahan II          : masak di atas api sedang hingga gula larut
Bahan III        : campur bahan dan kocok menggunakan wisher hingga gula larut
Masih hangat-hangat kuku, masukkan bahan II ke bahan I dalam 3 tahap.
Usahakan bahan I larut dalam adonan. Kondisi hangat bahan II akan banyak membantu proses pelarutan ini.
Terakhir masukkan bahan III dan aduk hingga rata.
Siapkan cetakan bersemir margarine, jika perlu alasi lagi dengan kertas roti.
Oven adonan pada suhu sekitar 160 C selama kurleb 45 menit.

 
-->
Catatan :
-          santan dimasak terlebih dahulu supaya bingka tidak cepat basi
-          oven atau panggang dalam suhu sedang dalam waktu lama agar bingka matang hingga tengah dan tidak gosong
-          apabila bingka anda kelihatan lembek, tidak perlu khawatir, bingka akan  mengeras begitu suhunya dingin

Ayah, Lakukanlah…


Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS. An-Nisa (4) : 34.

 
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. QS. Al-Baqarah (2) : 233.


Kaum Laki laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, maka salah satu hal terbaik yang dapat seorang ayah lakukan bagi keluarganya diantaranya adalah dengan menghargai, menghormati dan menyayangi wanita yang telah melahirkan anak anaknya.

Sesibuk apapun seorang ayah dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan aktifitas pekerjaannya sehari hari, untuk mencari dan memberikan nafkah bagi keluarga kita, sebaiknya sebagai Ayah, berkomitmen tidak akan menelantarkan dan menyia nyiakan semua keluarganya. Jangan pernah melepas waktu yang terlewati tanpa menasehati, berkata dan memberi teladan baik kepada keluarga, terutama anak-anak.

Berilahkanlah nasehat sesuai dengan apa yang ayah kerjakan dan lakukan, sebagaimana yang firman Alloh dalam QS. Al-Baqarah (2) : 44. Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri dari kewajiban mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab, Maka tidakkah kamu berpikir.

Agar anak anak kita kelak menjadi anak yang membanggakan dan sesuai dengan harapan orangtua, maka mulailah berbicara, mendidik dan memberi contoh-contoh baik sejak dini, sejak anak anak  masih kecil, dengan begitu permasalahan yang sulit bagi anak anak akan lebih mudah tertangani dan terselesaikan dengan baik. Dan manakala anak-anak semakin beranjak besar dan dewasa, maka luangkanlah waktu untuk mendengarkan dengan baik ide ide serta persoalan persoalan yang sedang mereka hadapi, atau apapun itu dengan tetap berpegang teguh pada bimbingan dan contoh. Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
 
 



JADILAH AYAH YANG AMANAH



"Hak anak atas ayahnya ialah diajari menulis, berenang, dan memberinya rezeki dari yang halal saja". HR. Al-Baihaqi.

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. QS. Al-Isra (17) : 26.
Ayah adalah model peran yang akan selalu dilihat, dicontoh dan dilakukan bagi anak anak, baik disadari atau tidak, apapun yang seorang ayah lakukan tidak akan terlepas dari pandangan dan penilaian anak, terutama dalam hal ketika sang ayah melakukan dan berprilaku pada anak perempuan. 

Seorang anak perempuan yang melewatkan waktu dengan Ayahnya yang penuh dengan kasih sayang, sesuai yang di contohkan oleh Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam, ia akan tumbuh dewasa dengan pengetahuan dalam ia kelak menentukan dan memilih suami, maka alangkah indahnya bila para Ayah dapat mengajari putera puterinya dalam kehidupan ini dengan mendemonstrasikan berbagai akhlaq yang baik, semisal, kejujuran, kebenaran, kerendahan hati, disiplin dan bertanggung jawab.

Disamping kita sebagai ayah kita juga harus menempatkan diri sebagai guru bagi anak anak kita, maka kurang bijak bila kita hanya menganggab bahwa mengajar adalah urusan guru saja, sesuai anjuran dan contoh dari Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Perhatikanlah anak anakmu, dan didiklah mereka dengan baik." HR. Ibnu Majah.

Usahakan sedapat mungkin seorang ayah sering sering makan bersama sama dengan anak anaknya baik itu makan pagi, makan siang, atau makan malam, karena ini dapat menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga yang sehat, walau hari hari seorang ayah sebagai kepala rumah tangga penuh dengan berbagai kegiatan dan kesibukan, akan tetapi dengan makan bersama sama ini juga dapat memberikan peluang pada anak anak kita untuk membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan dan apa yang ingin mereka kerjakan.

Disamping seorang ayah menempatkan diri sebagai guru dan pelindung, sedapat mungkin seorang ayah juga menempatkan diri sebagai sahabat, sebagai teman bagi anak anak, ayah bisa membuat acara ke toko buku bersama, mencarikan buku untuk anak-anaknya, berdiskusi buku apa dan mana yang bagus untuk kemudian saat malam tiba ayah bisa membacakan buku-buku tersebut., buku buku yang dapat memotifasi dan membuat anak anak kita jadi mandiri sekaligus mendorong serta menanamkan kecintaan kepada anak anak untuk terus membaca dan membaca,

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. QS. Ath-Thuur (52) : 21.

Al Islam



Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an). QS. An-Nisa. 4:174.

Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka, kamu tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku (HR. Hakim).

Katakanlah Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. " Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Al-Imran (3) : 31.

Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda Sesungguhnya, siapa yang hidup sesudahku, akan terjadi banyak pertentangan. Oleh karena itu,. Kamu semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk tersebut dan waspadalah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, Baihaki dan Tirmidzi).

HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani.
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, QS. Ar-Ruum (30) : 30.





* Inti isian kajian Ust. Alimin 

"Reward and Punishment"



Betapa berat beban wajib yang harus disandang peran orang tua. Kewajiban tentang mendidik anak-anaknya, buah hatinya –jika ia mengetahui- . dan salah metode yang Allah ajarkan melalui RasulNya adalah melalui metode "hadiah dan hukuman". Metode reward and punishment ini bisa dicarikan rujukannya dalam agama Islam. Salah satunya adalah apa yang dicontohkan Rasulullah saw dalam mendidik anak yang menginjak usia 10 tahun tetapi belum mau mendirikan shalat.

 Mari kita perhatikan sabda Rasulullah saw:
مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا
“Perintahkanlah anak untuk shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya.” (HR. Abu Dawud no. 494, dan dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan shahih)

Hadits ini memberikan contoh salah satu hukuman bagi anak yang tidak mau mendirikan shalat padahal sudah diajak, dibiasakan, dan diingatkan semenjak 7 tahun. Hukuman tidak diberikan secara mendadak dan tiba-tiba kecuali setelah ada proses "tanbih" (peringatan) .

Contoh lain yang dapat dilihat dari para pendahulu kita yang shalih di antaranya dikisahkan oleh Nafi’ rahimahullahu, maula (bekas budak) Abdullah bin ‘Umar radhiallahu 'anhuma:
أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا وَجَدَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِهِ يَلْعَبُ بِالنَّرْدِ، ضَرَبَهُ وَكَسَرَهَا
“Bahwasanya Abdullah bin ‘Umar radhiallahu 'anhuma apabila mendapati salah seorang anggota keluarganya bermain dadu, beliau memukulnya dan memecahkan dadu itu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1273. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata dalam Shahih Al- Adabul Mufrad: shahihul isnad mauquf)
Begitu pula Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu 'anha, sebagaimana penuturan Syumaisah Al- ’Atakiyyah:
ذُكِرَ أَدَبُ الْيَتِيْمِ عِنْدَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فَقَالَتْ: إِنِّي لأَضْرِبُ الْيَتِيْمَ حَتَّى يَنْبَسِطَ
Pernah disebutkan tentang pendidikan bagi anak yatim di sisi ‘Aisyah radhiallahu 'anha, maka beliau pun berkata, ‘Sungguh, aku pernah memukul anak yatim yang ada dalam asuhanku hingga dia telungkup menangis di tanah.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 142, dan dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad: shahihul isnad)

Contoh-contoh "hukuman" di atas, sekali lagi, bukanlah langkah awal dan solusi utama, kecuali setelah proses peringatan dan koreksi. Kesalahan memang kerap terjadi dalam diri setiap manusia (sebagaimana sifat manusia, mahallu nisyan wa khataa, tempatnya lupa dan salah) dan peringatan terus diperlukan hingga jika peringatan demi peringatan belum berarti, maka jatuhlah hukuman. Hukuman seperti pukulan seperti di atas misalnya, Islam juga mengaturnya seperti larangan memukul wajah. sebagaimana dalam hadits Abi Hurairah ra:
إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ
“Apabila salah seorang di antara kalian memukul, hendaknya menghindari wajah.” (HR. Al- Bukhari no. 2559 dan Muslim no. 2612)

Dan kita perlu pahami, bahwa sakit seseorang, musibah bencana alam, dan sejenisnya, bisa masuk kategori hukuman Allah kepada seseorang/kaum di dunia ini, selain cobaan (bagi orang yang beriman) dan ujian (seperti para nabi). Orang yang terhukum dengan musibah menimpanya di dunia, in syaa Allah bisa menjadi penghapus dosa-dosanya (mukafirrat dzunub), sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Di riwayat yang lain, Rasul mengatakan: “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan (kelelahan), sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahan nya." (HR. Al-Bukhari).

Secara umum, "reward and punishment" dapati di-qiyas-kan dari ayat Al-Qur`an berikut ini: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).

Dan hadiah yang diberikan kepada yang berprestasi bukanlah suatu tujuan, tapi sekedar wasilah, "kendaraan" untuk mempertahankan dan lebih meningkatkan prestasi bagi yang telah meraihnya, trigger bagi yang belum berprestasi. Dan ini dipahamkan secara berproses, bukan hanya melalui ceramah saja, tetapi pemahaman materi pelajaran agama, bab "thalabul 'ilmi", misalnya. Terutama, bagi anak di masa pertumbuhan, mereka masih membutuhkan sesuatu yang ditiru, plagiat, mencari idola, dan populer di kalangan mereka. Awal peniruan kepada hal yang baik dan positif, meski masih bersifat ekstrinsik, lebih baik daripada tersesat berimitasi kepada yang tidak sesuai dengan dunia pendidikan.

Inilah yang diistilahkan pendidikan –sesuatu yang bernilai baik- itu perlu "dipaksakan" dahulu kemudian akan menjadi "kebiasaan", dan terahir menjadi ikhlas dalam menuntut ilmu. In syaa Allah akan berjalan sejajar dengan kualitas dan prestasi. Seperti ayat Al-Quran berikut ini (sekaligus bukti reward dalam dunia pendidikan): "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)

PERJALANAN RASULULLAH Saw. KE THAIF



Selama sembilan tahun sejak kerasulan, Nabi Muhammad saw telah berusaha menyampaikan ajaran Islam dan mengusahakan hidayah serta perbaikan kaum nya di Makkah, namun sangat sedikit yang menerima ajakan beliau,kecuali orang-orang yang sejak awal telah masuk Islam. Selain mereka, ada orang-orang yang belum masuk Islam,tetapi siap membantu Rasulullah saw. Dan kebanyakan orang-orang kafir Makkah selalu menyakiti dan mempermainkan beliau dan para sahabat beliau. 

Abu Thalib termasuk orang yang tidak memeluk Islam namun sangat mencintai Nabi saw, ia akan melakukan apa saja yang dapat menolong Nabi saw. Pada tahun kesepuluh kenabian, ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum kuffar semakin berkesempatan untuk mencegah perkembangan Islam dan menyakiti kaum muslimin.
Rasulullah saw pun pergi ke Thaif. Disana ada suatu kabilah bernama Tsaqif, yang sangat banyak anggotanya, Beliau berpendapat, jika mereka memeluk Islam, kaum Muslimin akan terbebas dari siksaan orang-orang kafir tersebut. Dan akan menjadikan kota ini sebagai pusat penyebaran Islam. Setibanya di Thaif, Nabi saw langsung menemui tiga orang tokoh masyarakat dan berbicara dengan mereka, mengajak mereka kepada agama Allah, dan mengajak mereka agar membantu Rasulullah saw. 

Namun mereka bukan saja menolak, bahkan sebagai Bangsa Arab yang terkenal dengan adatnya yang sangat menghormati, itupun tidak mereka lakukan. Bahkan mereka menjawab dengan terang-terangan dan menerima beliau dengan sikap yang sangat buruk. Mereka menunjukan perasaan tidak suka dengan kedatangan Nabi saw. Pada mulanya beliau berharap agar kedatangan beliau kepada tokoh masyarakat akan disambut dengan baik dan sopan. Namun ternyata sebaliknya. 

Diantara mereka ada yang berkata, “wahai, kamukah orang yang dipilih oleh Allah sebagai Nabi-nya?” Yang lain berkata, “Tidak adakah orang selain kamu yang lebih pantas dipilih Allah sebagai Nabi? Yang ketiga berkata, “Aku tidak mau berbicara denganmu, sebab jika kamu memang seorang nabi seperti pengakuan mu lalu aku menolak mu, tentu itu tidak akan mendatangkan bencana dan jika kamu berbohong, aku tidak ingin berbicara dengan orang seperti itu.” 

Setelah itu dengan perasaan kecewa terhadap mereka, Nabi saw berharap dapat berbicara dengan orang-orang selain mereka. Inilah sifat Nabi saw yang selalu bersungguh-sungguh, teguh pendirian, dan tidak mudah putus asa. ternyata tidak seorang pun diantara mereka yang bersedia menerima beliau. Bahkan mereka membentak beliau dengan berkata,” Keluarlah kamu dari kampung ini! Pergilah kemana saja yang kamu sukai!” 


Ketika Nabi saw. Sudah tidak dapat mengharapkan mereka dan bersiap-siap akan meninggalkan mereka, mereka menyuruh anak-anak kota tersebut mengikuti Nabi saw., lalu mengganggu ,mencaci, serta melemparinya dengan batu, sehingga sandal beliau berlumuran darah. dalam keadaan seperti inilan Nabi meninggalkanThaif . 

Ketika pulang beliau menjumpai sebuah tempat yang dianggap aman dari kejahatan mereka. Beliau berdoa kepada Allah swt.,   “Ya Allah, kepada Mu lah kuadukan lemahnya kekuatanku, kurangnya upayaku dalam pandangan manusia. Wahai yang Maha Rahim dari sekalian rahimin, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang merasa lemah, dan Engkaulah tuhanku, kepada siapakah engkau serahkan diriku. kepada orang asing yang akan memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang engkau berikan segala urusanku., tiada keberatan bagiku asalkan engkau tidak marah kepadaku. Lindungan-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan Nur wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan,dan dengannya menjadi baik dunia dan akhirat, dari turunya murka-Mu kepadaku atau turunya ketidakridhaan- Mu kepadaku. Jauhkanlah murka-Mu hingga Engkau ridha.Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.” 


Allah swt. Penguasa seluruh alam pun memperlihatkan keperkasaan- Nya. Demikian sedih doa Nabi saw., sehingga Jibril a.s datang untuk memberi salam kepada beliau dan berkata, “ Allah mendengar pembicaraanmu dengan kaummu, dan Allahpun mendengar jawaban mereka, dan Dia mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apa pun perintahmu kepadanya. “Malaikat itupun datang dan memberi salam kepada Nabi saw. Seraya berkata,” apapun yang engkau perintahkan akan kulaksanakan. Bila engkau suka, akan ku benturkan kedua Gunung disamping kota ini sehingga siapa saja yang tinggal diantara keduanya akan hancur binasa. Jika tidak, apapun hukuman yang engkau inginkan, aku akan siap melaksanakannya.” 

Rasulullah saw.yang bersifat pengasih dan mulia ini menjawab, “ aku hanya berharap kepada Allah, seandainya saat ini mereka tidak menerima Islam, semoga kelak keturunan mereka akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah.” 

 
Ibroh
Demikianlah Akhlak Nabi yang mulia. Kita mengaku sebagai pengikutnya, namun ketika kita ditimpa sedikit kesulitan atau celaan, kita langsung marah, bahkan menuntut balas seumur hidup. Kezhaliman dibalas dengan kezhaliman, sambil terus mengaku bahwa kita adalah umat nabi saw. Padahal dengan pengakuan itu, seharusnya segala tingkah laku kita mengikuti beliau. Jika mendapatkan kesulitan dari orang lain, Nabi saw tidak pernah mendoakan keburukan dan tidak pernah keinginan menuntut balas.


* Disadur dari berbagai sumber

Etika Bertetangga dan Jangan Menunda Membayar Hutang




Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, QS. An-Nisa’ ( 4) : 36.

Mengenalkan Manajemen Ekonomi Pada Anak



’Toolilet! Tooolilet!....’ terdengar suara khas penjaja es krim yang lewat di depan rumah. Serta merta Rini terkesiap, ’Adduh!, pasti deh sebentar lagi akan ....’
”Bundaaa!!! Bundaaa!!! Minta uanggg!!!”
’tuuh. Bener kan!’ batin Rini kesal.

Ibu muda ini kelihatan gusar sekali, ia bingung, bagaimana membiasakan Adi, putranya supaya bisa berhemat. Setiap hari tak kurang sepuluh ribu yang harus ia keluarkan untuk sekedar jajan anaknya yang baru berumur 5 tahun itu. Mulai dari berangkat sekolah, minta uang saku. Pulang sekolah, minta uang lagi, buat beli layang-layang-lah, kelereng-lah, yoyo sampai kartu power rangers. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, hampir setiap jajanan yang lewat di depan rumah ia selalu minta. Sang ibu-pun tak kuasa menolak lagi rengekan anak kesayangannya itu, Ia turuti sekalipun dengan hati kesal dan gusar. Kesal karena terpaksa harus memangkas uang untuk keperluan yang lain, gusar karena ia khawatir hal ini menjadi kebiasaan buruk Adi ke depannya..

Apa yang terjadi pada Rini bisa jadi juga dialami oleh para orang tua yang lain. Nah, bagaimana mendewasakan anak dalam hal ekonomi? Bagaimana memberi pemahaman ekonomi kepada anak? Karena sebagai orangtua, kita harus mampu mengajarkan dan memperkenalkan cara hidup hemat kepada anak -anak. Kita juga harus memberi pengetahuan pentingnya menabung agar mereka tidak terseret arus konsumerisme. Berikut saran yang mungkin sedikitnya bisa menjadi referensi atau masukan untuk orangtua dalam memberikan pemahaman tentang manajemen ekonomi kepada anak:

1. Membuat Prioritas
Kita biasakan memberikan penjelasan kepada anak, apa saja kebutuhan kita sekarang ini, dalam kurun waktu tertentu. Misalnya dalam kurun waktu sebulan, apa yang sangat dibutuhkan dalam keluarga. Contoh, kebutuhan kakak untuk minggu ini: membeli sepatu kakak yang sudah rusak, membeli buku pelajaran, servis sepeda, dll. Anggaran untuk adik: membeli crayon karena sudah banyak yang patah, membeli buku mewarna, mengganti boneka teman yang kemarin dirusakkan adik, dll.

Jelaskan hal ini sesuai dengan nalarnya, beri anak pemahaman berapa budget belanja per minggu-nya, apa saja yang harus terlebih dulu dibeli dibanding benda lain yang anak inginkan. Hal ini untuk membiasakan anak memahami tentang budget belanja serta prioritas kebutuhan dirinya.

2. Membuat Daftar Belanja
Saat berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari, entah ke pasar tradisional atau supermarket, biasakan ibu membuat sebuah daftar belanja. Tunjukkan daftar belanja tersebut kepada anak. Jelaskan bahwa ibu akan mengajak anak pergi berbelanja namun ibu hanya akan membeli barang-barang yang ada dalam daftar. Anak akan belajar untuk konsisten dengan tidak meminta apapun ketika di supermarket. 

Memang butuh sedikit rasa ’tega’ untuk melakukan hal ini. Cukup berat dilakukan oleh orangtua yang memang sudah terbiasa menuruti segala permintaan anak. Namun ibu juga bisa mengadakan ’perjanjian’ dengan anak sebelum berangkat belanja. Beri tawaran apakah anak menginginkan suatu barang atau tidak, jika ya, apa barang yang diinginkan tersebut, misalkan coklat. Maka coklat itu dapat dimasukkan ke dalam daftar belanja. Selanjutnya belanjalah bersama anak dengan membeli barang sesuai dengan daftar. Tidak lebih.

3. Tidak Lapar Mata
Lapar mata adalah istilah tidak tahan melihat barang yang terpajang di etalase atau toko-toko. Anak-anak pun bisa tergiur jika melintasi toko makanan, penjaja es krim ataupun toko mainan. Kita ajak anak untuk menahan diri.
Bisa kita katakan, mainan seperti itu masih banyak persediaan dan Mama akan membelikan pada saat yang tepat. Lihatlah beberapa hari kemudian. Bila ia melupakannya, berarti anak hanya menginginkan sesaat saja.

4.Pilih Alternatif Tempat Jalan-jalan
Kurangilah bepergian jalan-jalan ke mall, sebab, setiap waktu ada saja barang baru yang hadir di sana dan bisa membuat kita tergiur untuk membelinya. Begitu pun anak-anak. Ada banyak varian tempat rekreasi keluarga yang menyenangkan dan edukatif. Ada museum, bangunan bersejarah, wisata alam dan masih banyak lagi lainnya. Itu lebih menyenangkan daripada sekedar mall.

5. Menabung Uang Receh
Bangunlah kebiasaan menabung di rumah. Beri anak anda celengan kecil, bisa beli, lebih baik lagi apabila anda bisa mengajak anak membuat celengannya sendiri. Ini bisa menimbulkan ikatan emosi anak dengan celengannya... Jika anak memiliki uang receh, biasakan untuk memasukkan dalam celengan dan ajaklah untuk merencanakan sesuatu dengan hasil tabungannya. Bila sudah banyak, bisa ditukar ke bank atau belikan barang kebutuhan yang sangat anak inginkan namun budgetnya besar. Misalkan sepeda. 



* Disadur dari berbagai sumber

Tentang Hutang


Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. At-Tahrim (66) : 6.

Akhlaq Pegawai Muslim



Islam merupakan agama yang lengkap dan sempurna. Semua sisi permasalahan manusia sudah dibahas dan diatur dalam Islam, tanpa kecuali. Mulai dari manajemen ekonomi hingga masalah mandi, mulai dari kewajiban menuntut ilmu hingga aturan memotong kuku. Bahkan masalah tata negara dan perang hingga urusan ranjang pun ada aturannya dalam agama Islam

Ini semua merupakan bukti bahwa agama ini benar-benar merupakan agama yang diturunkan oleh Sang Pencipta Manusia, karena hanya yang menciptakanlah yang akan tahu seperti apa dan bagaimana segala kebutuhan akan makhluk ciptaannya. Seperti tulisan berikut, adalah salah satu dari sekian banyak aturan yang sudah ditetapkan dalam Islam demi terjaganya martabat dan kehormatan manusia itu sendiri.

Berikut adalah akhlaq atau kepribadian yang harus dimiliki seorang muslim dalam bekerja:

1. Mendahulukan Yang Dahulu Dalam Melayani
Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan- Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS. At-Taubah (9) : 105.

Termasuk sikap adil dan insaf ; hendaknya seorang pegawai tidak mengakhirkan orang yang duluan dari orang-orang yang berurusan, atau mendahulukan orang yang belakangan. Akan tetapi ia mendahulukan berdasarkan urusan yang terdahulu. Dalam hal yang seperti ini memudahkan pegawai dan orang-orang yang berurusan.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. Al-Maaidah (5) : 8.

Telah datang dalam sunnah Rasulullah apa yang menunjukkan atas itu. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat?’ Rasulullah terus berbicara, sebagian orang berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya’, sebagian lain mengatakan, ‘Bahkan ia tidak mendengar’, sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersaba, ‘Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’ Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat” [Diriwayatkan Al-Bukhari]
 

Hadits ini menunjukkan bahwasanya Rasulullah tidak menjawab si penanya tentang hari Kiamat melainkan setelah ia selesai berbicara kepada orang-orang yang telah mendahuluinya. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam uraiannya, “Disimpulkan darinya memberi pelajaran berdasarkan yang duluan, dan begitu juga dalam fatwa-fatwa, urusan pemerintahan dan lain sebagainya”.


2. Harus Memiliki Sifat Iffah (Menjaga Kehormatan) Dan Bersih Dari Menerima Sogokan Dan Hadiah.
Setiap pegawai wajib menjadi seorang yang menjaga kehormatan dirinya, berjiwa mulia dan kaya hati. Jauh dari memakan harta-harta manusia dengan batil, dari apa-apa yang diberikan kepadanya berupa suap walau dinamakan dengan hadiah. Karena apabila dia mengambil harta manusia dengan tanpa hak berarti ia memakannya dengan batil, dan memakan harta dengan cara batil merupakan salah satu sebab tidak dikabulkannya do’a.

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. QS. Al-Baqarah (2) : 42.

Muslim meriwayatkan di dalam shahihnya (1015) dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya yang pertama busuk dari manusia adalah perutnya, maka barangsiapa yang sanggup untuk tidak memakan melainkan yang baik maka lakukanlah, dan barangsiapa yang bisa untuk tidak dihalangi antara dia dan surga walau dengan segenggam darah yang ditumpahkannya maka lakukanlah”

Dan yang juga diriwayatkannya (2083) dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli dengan cara apa dia mengambil harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram”.

Menurut orang-orang yang mengambil harta tanpa peduli ini ; bahwasanya yang halal adalah yang berada di tangan dan yang haram adalah yang tidak sampai ke tangan. Adapun yang halal dalam Islam adalah apa yang telah dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan yang haram adalah yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Telah datang dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits-hadits yang menunjukkan dilarangnya aparat pekerja dan pegawai mengambil sesuatu dari harta walaupun dinamakan hadiah, diantaranya hadits Abi Sa’id Hamid As-Saidi, ia berkata.
“Artinya : Rasulullah mempekerjakan seseorang dari suku Al-Asad, namanya Ibnul Latbiyyah untuk mengumpulkan zakat, maka tatkala ia telah kembali ia berkata, ‘Ini untuk engkau dan ini untukku dihadiahkan untukku’. Ia (Abu Hamid) berkata, ‘Maka Rasulullah berdiri di atas mimbar, lalu memuja dan memuji Allah dan bersabda, ‘Kenapa petugas yang aku utus lalu ia mengatakan, ‘Ini adalah untuk kalian dan ini dihadiahkan untukku?! Kenapa dia tidak duduk di rumah bapaknya atau rumah ibunya sehingga dia melihat apakah dihadiahkan kepadanya atau tidak?! Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah seorangpun dari kalian menerima sesuatu darinya melainkan ia datang pada hari Kiamat sambil membawanya di atas lehernya onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik’, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sampai kami melihat putih kedua ketiaknya, kemudian bersabda dua kali, ‘Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?” [Diriwayatkan Al-Bukhari 7174 dan Muslim 1832 dan ini adalah lafazhnya]

Dan di dalam shahih Bukhari (3073) dan shahih Muslim (1831) –dan dengan lafazhnya- dari Abu Hurairah, ia berkata. “Artinya : Rasulullah berbicara kepada kami pada suatu hari, maka beliau menyebutkan Ghulul [1] dan beliau menganggapnya perkara yang besar, kemudian ia berkata, ‘Aku akan temui salah seorang kalian yang datang pada hari Kiamat di atas lehernya ada onta yang bersuara, ia berkata, ‘Hai Rasulullah, tolonglah aku’, maka aku (Rasulullah) mengatakan, ‘Aku tidak mampu berbuat apa-apa untukmu sedikitpun, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan temui salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan kuda di atas pundaknya yang memiliki hamhamah (suara), lantas ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Bantulah aku’, maka aku berkata, ‘Aku tidak bisa membantu sedikitpun, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan dapatkan salah seorang darimu datang pada hari Kiamat dengan kambing yang mengembik diatas pundaknya seraya berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, Maka aku menjawab, ‘Aku tidak mampu berbuat apa-apa untukmu, aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan dapatkan salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa jiwa yang menjerit, lantas ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, Maka aku berkata, ‘Aku tidak memiliki apa-apa untukmu, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan mendapatkan salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan pakaian diatas pundaknya ada shamit (emas dan perak), lalu ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, maka aku akan menjawab, ‘Aku tidak memiliki apa-apa untukmu, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu”. Riqa di dalam hadits ini maksudnya adalah pakaian dan shamit adalah emas dan perak.

Diantaranya hadits Abu Hamid As-Sa’di, bahwasanya Rasulullah bersabda.
“Hadiah-hadiah para pekerja adalah ghulul (khianat)”. Diriwyatkan oleh Ahmad (23601) dan lainnya, dan lihat takhrijnya di kitab Irwa Al-Ghalil oleh Al-Albani (2622), dan ini semakna dengan hadits yang telah lalu dalam kisah Ibnu Al-Latbiyyah.
 

Diantaranya hadits Adi bin Umairah, ia berkata, “Aku mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Barangsiapa diantara kalian yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan dari kami satu jarum atau yang lebih kecil, maka dia adalah ghulul dan ia akan datang dengannya pada hari Kiamat” [Dikeluarkan oleh Muslim]

Diantaranya hadits Buraidah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.
“Barangsiapa yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu kami memberinya bagian, maka apa yang diambilnya setelah itu adalah perbuatan khianat” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad shahih, dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Betapa kita melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana buruknya kepribadian para pegawai negara tercinta kita ini. Tengoklah bagaimana sikap para pegawai negeri yang menangani pelayanan umum untuk masyarakat. Mulai dari pembuatan surat-surat, SIM, KTP, pasport, pelayanan jasa masyarakat seperti di rumah sakit, kepolisian, kejaksaan, bahkan lembaga pendidikan, betapa sering kita dapat melihat bagaimana slogan ’uang bisa bicara’ terlihat dengan mata telanjang. Tanpa rasa malu.
Sudah bukan rahasia lagi kalau ada ’anak emas’ dan ’anak tiri’ dalam pelayanan publik di negeri ini. Sudah bukan sesuatu yang baru lagi ketika ada tawaran ’hidden cost’ apabila menginginkan proses pembuatan surat-surat pribadi kita dipercepat, daripada yang lainnya.

Dan yang paling memprihatinkan adalah ketika menyadari bahwa hal-hal buruk itu justru terjadi di sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim...


[*Dikutip dari kitab Kaifa Yuaddi Al-Muwazhzhaf Al-Amanah, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad, Penerjemah Agustimar Putra, Penerbit Darul Falah, Jakarta 2006]
__________
Foote Note
[1]. Al-Ghulul maksudnya perbuatan curang dan yang dimaksud hadits ini adalah mengambil ghanimah (rampasan perang) dengan sembunyi-sembunyi sebelum dibagikan (pen).

My First Posting





Bismillahirrohmanirrohiim…

Alhamdulillah… blog ini telah rampung kami bangun, kami desain, kami poles secantik yang kami bisa…
Blog ini merupakan blog pribadi keluarga kami yang kami dedikasikan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman kepada siapapun dan dimanapun berada, agar dapat mengambil manfaat dari setiap tulisan yang ada dalam blog kami ini.
Terkhusus kaum hawa, kaum bunda yang sedang mencari ilmu dan persahabatan …
Karena bunda memiliki banyak dunia…
Semoga tulisan-tulisan kami bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkan

Wassalam.

Because A Mom has a lots of world, a lots of dream and she has a big vim too…
Active Search Results