Kajian 13 : Dajjal (1)



Dajjal secara bahasa artinya adalah pendusta besar. Merupakan seorang manusia keturunan Nabi Adam as. Fitnah Dajjal adalah fitnah terbesar dari sejak Nabi Adam diciptakan di dunia hingga hari kiamat kelak. Dan tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada fitnah yang lebih besar dari sejak Adam diciptakan hingga hari kiamat yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).



Sebelum Dajjal muncul, bumi mengalami musim panas yang sangat panjang. Manusia mengalami kesulitan yang sangat karena kekeringan dan kelaparan. Mereka sangat membutuhkan air dan makanan. Dajjal muncul dan mengaku sebagai Tuhan. Allah saw memberinya kemampuan untuk bergerak sangat cepat, ia bisa menggiring awan, menumbuhkan tanaman dan menurunkan hujan. Dajjal juga mampu membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka. Manusia yang tidak pernah mengenal Allah, akan menyangka bahwa ia adalah Tuhan dan kemudian menyembahnya.

Sampai seorang yang awalnya ia mengaku beriman, kemudian ia menemui Dajjal dan melihat perkara yang sangat luar biasa yang terdapat pada Dajjal, ia pun akhirnya menjadi pengikut Dajjal.

Setiap Nabi sudah mengingatkan kepada umatnya akan fitnah besar dari Dajjal ini. Termasuk Nabi Nuh as.
Dajjal sekarang ada di sebuah pulau yang terletak di timur. Hadits shahih yang sangat mendekati dan sangat rinci menerangkan tentang Dajjal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Fathimah binti Qais yang menceritakan tentang kisah  Tammim ad Darrr. Beliau adalah seorang sahabat Rasulullah yang pernah bertemu dengan Dajjal ketika masih beragama Nasrani. 

Diceritakan, bahwa Tammim Ad Darr melakukan pelayaran bersama dengan 30 orang lelaki dari kaum Lakhm dan Judzam. Kapal mereka dipermainkan ombak selama sebulan di tengah lautan. Kemudian kapalnya terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni di tengah lautan di tempat terbenamnya matahari. Mereka duduk-duduk di kapal mereka, lalu bersama memasuki pulau tersebut.

Di pulau itu, Tammim dan kelompoknya terkejut melihat binatang yang berbulu panjang dan lebat. Begitu lebat dan panjangnya bulu hingga tidak bisa dibedakan mana depan dan mana belakang dari binatang tersebut. Binatang itu dapat berbicara dan menunjukkan kepada Tammim seorang lelaki yang berada di sebuah istana, binatang tersebut adalah Jassasah.

Tammim dan kaumnya lalu pergi dengan cepat ke istana yang dimaksud Jassasah tersebut. Di dalam istana itu mereka melihat seorang lelaki yang berbadan besar, kedua tangannya sedang dibelenggu oleh besi ke lehernya. Kedua lututnya hingga kedua mata kakinya pun terbelenggu. Terjadilah tanya jawab antara Tammim dengan lelaki itu.

"Celaka Anda! Siapakah Anda?"

"Sungguh kalian telah tahu tentang beritaku. Kabarkan padaku tentang pohon-pohon kurma Baisan."
"Engkau tanya tentang apanya?"

"Aku tanyakan kepada kalian tentang pohon-pohon kurmanya. Apakah masih berbuah?"

"Ya"

"Ingatlah bahwa hampir-hampir ia tidak berbuah lagi. Kabarkan aku tentang Danau Thabariyyah!"

"Apanya yang kau tanyakan?"

"Apakah di dalamnya masih ada air?"

"Danau itu masih banyak airnya."
"Ingatlah, sesungguhnya airnya hampir-hampir akan habis. Kabarilah aku tentang mata air Zughar."

"Apanya yang kau tanyakan?"

"Apakah di dalam mata air itu masih ada air? Apakah penduduknya masih menggunakan airnya untuk bercocok tanam?"

"Ya. Mata air itu masih banyak dan penduduknya masih bercocok tanam menggunakan airnya."

"Kabarilah aku tentang nabinya orang-orang ummi. Apa yang ia lakukan?"

"Dia telah keluar dari kota Mekkah dan bertempat tinggal di Yatsrib (Madinah)"

"Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab?"

"Ya."

"Apa yang ia lakukan pada mereka?"

Lalu mereka memberitahu Dajjal bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad telah berkuasa atas orang-orang yang ada di sekitarnya dari kalangan Arab dan mereka menaatinya.

"Apakah hal itu sudah terjadi?"
"Ya."
"Ingatlah bahwa hal itu lebih baik bagi mereka untuk menaatinya. Sekarang aku kabarkan kepada kalian bahwa aku adalah Al Masih (yakni Al Masih Ad-Dajjal). Sungguh aku hampir diberi izin untuk keluar. Aku akan keluar dan berjalan di bumi. Aku tak akan membiarkan suatu negeri kecuali aku injak dalam waktu 40 hari, selain Mekkah dan Thaibah (Madinah). Kedua kota ini diharamkan atasku. Setiap kali aku hendak memasukinya, maka aku dihadang oleh seorang malaikat, di tangannya terdapat pedang terhunus yang akan menghalangiku darinya. Sesungguhnya pada setiap jalan-jalan masuk padanya ada malaikat-malaikat yang menjaganya."
   

Bersambung



Active Search Results